3 Pilar dalam Merajut Profesionalisme0 comments Tuesday, September 29, 2009Dalam bentangan perjalanan hidup yang terus bergulir, ada baiknya kita mencoba untuk sejenak membincangkan cerita tentang etos profesionalisme. Sebab kita tahu, terbitnya etos kerja yang profesional adalah sebuah rute kunci menuju jalan keberhasilan. Tanpa dilumuri oleh etos kerja yang penuh profesionalisme, kita mungkin akan mudah tergelincir menjadi barisan para pecudang. Tanpa kesadaran batiniah untuk menjejakkan etos profesionalisme dalam segenap raga, kita mungkin akan segera menjadi insan-insan yang gagap dengan dinamika perubahan. Miskin prestasi, dan absen dari perjalanan panjang menuju manusia produktif, mulia nan bermartabat. Kalaulah demikian adanya, lalu apa yang mesti diteguk untuk menjadi insan yang kuyup dengan guyuran etos profesionalisme? Disini kita mencoba mengeksplorasi tiga pilar kunci yang rasanya layak dicermati manakala ada asa untuk menjadi insan yang profesional. Pilar yang pertama adalah achievement orientation. Dulu, seorang sosiolog terkemuka bernama David McLelland pernah menulis : salah satu faktor yang membuat sebuah komunitas/masyarakat lebih unggul dibanding yang lainnya adalah lantaran mereka dipenuhi dengan individu yang punya high need for achievement (atau sering disebut sebagai NAch = need for achievement). Disini, need for achievement merujuk pada gairah untuk melakoni kerja yang sebaik-baiknya demi terengkuhnya hasil karya yang juga layak dibanggakan. Disana yang muncul adalah sebuah etos, sebuah dedikasi, dan sebuah tanggungjawab untuk meretas prestasi terbaik. Ketika tugas dan tantangan membentang didepan kita, yang kemudian muncul adalah sebuah niat tulus untuk mentransformasi rangkaian tantangan dan tugas itu menjadi sebuah prestasi kerja yang adiluhung. Orang-orang yang memiliki High NAch selalu percaya bahwa berderet tugas – apapun tugas dan pekerjaan itu – selalu merupakan sebuah rute untuk mempersembahkan karya terbaik. Dan sungguh, inilah elemen kunci yang mesti dipahat oleh siapapun yang berkehendak menjadi insan yang profesional. Pilar profesionalisme yang kedua adalah ini : sebuah ikhtiar untuk terus belajar mengembangkan kompetensi diri. Sebuah tekad yang dibalut oleh semangat untuk mempraktekkan prinsip lifetime learning (belajar sepanjang hidup). Bagi mereka selalu akan ada celah dan ruang untuk terus memekarkan potensi dan kapasitas diri. Selalu akan ada jalan untuk merekahkan pengetahuan, membasuh ilmu dan merajut ketrampilan. Bagi insan profesional semacam itu, proses belajar mengembangkan kompetensi selalu bisa direngkuh dari segala jurusan. Sebab moto mereka adalah ini : everyone is a teacher and every place is a school. Sebuah kalimat yang indah bukan? Ya, sumber ilmu selalu bisa dijemput dari siapapun – entah dari seorang guru, dari atasan, bawahan, rekan kerja atau dari para pelanggan. Dan sumber ilmu juga dicegat dari lokasi mana saja : dari sekolah, dari perpustakaan, dari pasar yang penuh keramaian, atau dari lingkungan kantor yang selalu penuh dinamika. Pilar profesionalisme yang ketiga adalah yang paling penting. Pilar itu adalah ruh spiritualitas yang kokoh. Sebab bagi kita, profesionalisme yang paling hakiki hanya akan punya makna jika ia dibalut oleh semangat spiritualisme yang kokoh. Inilah sebuah semangat yang selalu percaya bahwa segenap laku jejak kehidupan profesional kita selalu ditautkan pada pengabdian kepada Yang Maha Mencipta. “Dan sesungguhnya, sholatku, ibadahku, dan hidup matiku hanyalah untuk Tuhan Sang Pencipta Alam”. Sebab itulah, insan yang profesional tidak hanya cerdas dalam praktek manajemen modern, namun juga mereka yang hatinya selalu rindu akan mesjid (atau rindu pada gereja bagi para umat Kristiani, atau rindu pada pura bagi para pemeluk Hindu). Insan profesional sejati tidak hanya fasih bicara mengenai strategi dan leadership, namun mereka juga senantiasa fasih berdzikir memuja kebesaran Sang Pencipta. Dan insan profesional sejati tidak hanya tangkas mengelola tugas dan mengambil keputusan, namun mereka juga selalu mau bangun ditengah malam : berkontemplasi, membangun sebuah meeting yang sangat intens dengan Sang Pemelihara Jagat Raya. Itulah tiga pilar yang menopang bangunan etos kerja profesional : sebuah semangat untuk merengkuh prestasi terbaik, sebuah semangat untuk terus belajar, dan sebuah semangat untuk selalu mengabdi pada Sang Pemberi Hidup. Praktekkan tiga pilar kunci ini, dan Anda pasti akan berjalan menuju Kemenangan Sejati. Selamat Idul Fitri. Mohon Maaf Lahir dan Batin. disadur dari Yodia Anthariksa http://strategimanajemen.net Kenali Peserta Pelatihan Anda0 comments Monday, July 13, 2009Teman, kita harus mengetahui profil peserta pelatihan terlebih dahulu saat akan mendesain pelatihan, karena dari profil tersebut kita akan menjadi kreatif mendesain dan dengan sendirinya akan dapat menentukan target output pelatihan serta dapat memutuskan apakah game 2 akan diberikan atau tidak. Diibaratkan membuat kue yang berbahan dasar terigu, kita tidak dapat memastikan kue apa yang akan disajikan nantinya, apakah kue bolu kukus, kue tart atau kue lapis, apa bila tidak diketahui bahan pendukung membuat kue tersebut. Kalau pun dibuat sambil berjalan, bisa jadi akan aneh rasanya. Akan tetapi tentu akan berbeda kondisinya apabila bahan pendukung membuat kue sudah kita ketahui sebelumnya. ![]() Demikian pula Pelatihan SIYB, ada hal-hal yang terlihat mudah, sepele dan kecil yang terkadang tidak dianggap penting atau terabaikan, padahal hal tersebut akan menjadi penyanggah utama dalam pelatihan dan juga penting dalam kesuksesan kita dimasa yang akan datang sebagai seorang pelatih. Terkadang kita hanya terfokus pada proses pelatihan didalam kelas dan tampa memperhatikan; siapa pesertanya, seperti apa latarbelakangnya ? apa kebutuhan mereka dalam pelatihan dan berbisnis? Yang menyedihkan adalah kembali membawa mereka kedalam suasana "Bangku sekolah" dan pelatih menjadi seorang penceramah yang menganggap dirinya lebih tahu dibandingkan pesertanya ... Didalam pelatihan Pendidikan Orang Dewasa, hal tersebut tidak boleh terjadi. Oleh karenanya penting bagi seorang pelatih untuk melakukan tahapan seleksi peserta, analisis kebutuhan pelatihan dan desain pelatihan (berdasarkan proses analisis tersebut ). Apa bila tahapan tersebut sudah dilakukan, maka pelatihan akan lebih mudah diselenggarakan dan tentunya peserta akan puas, sehingga dukungan setelah pelatihan tentunya akan menjadi lebih mudah dilakukan. Saran saya, jadikan siklus pelatihan SIYB sebagai patokan dalam setiap proses pelatihan (bahkan untuk pelatihan apapun!) . Lakukan setahap demi setahap siklus tersebut dan jangan terburu-buru untuk meloncat melewati tahapan sebelumnya. Jangan dulu pikirkan mengenai desain pelatihan sebelum mengetahui profil peserta pelatihan. Sekali lagi, lakukan dan lewati setahap demi setahap setiap siklus SIYB, kita harus banyak berlatih diri untuk dapat menyampaikan SIYB dengan baik dan menghasilkan pengusaha yang sukses. Kata kunci dalam proses ini adalah : praktek …, praktek…., praktek …dan fokus pada setiap tahapan. Bagaimana menurut anda? Salam edwar Kisah cinta untuk akhir minggu kita0 comments Friday, June 12, 2009 " ... Malam mulai beranjak pagi dan saya masih saja berkutat menulis treatment syuting. Sebuah sapaan di messenger muncul ditengah tengah kebuntuan ide. Ah, dia . Seorang yang pernah mempesona dan menawarkan tempat berlabuh bagi ruang cinta dan rindu. Kami memulainya sebagai teman, dan ketika harus mengakhiri karena ada tujuan lain dalam perjalanan hidup masing masing, kami tetap bersahabat. Sampai sekarang. Dia memang tak datang di hari pernikahan saya dulu. Dia hanya mengirimkan sahabatnya untuk menyampaikan salam. Tapi ketika anak saya lahir, ia mengirimkan sebuah hadiah yang manis. Pun saat ia gagal lagi dengan percintaannya - Ia belum juga menikah - saya menemani makan sambil mendengarkan dia berceloteh tentang semuanya, karena ia memang membutuhkan teman bicara. Ada sebuah misteri yang dinamakan rahasia kehidupan. Kita tak akan mampu menebaknya. Mengapa kadang semua tidak terjadi sesuai skenario terbaik yang telah kita susun. Dalam film Love Affair , di atas pesawat , Mike Gambril berjanji untuk bertemu kembali dengan Terry Mc Kay dalam waktu enam bulan kedepan. Hari, tanggal, jam dan tempat yang ditentukan. Di puncak Empire State Building, New York. Selama waktu penantian, mereka sepakat tidak akan melakuan kontak. “ if you are not there, I will understand “ kata Mike. Disisi lain ada harapan bahwa masih ada sisa beberapa bulan ke depan untuk menuntaskan janji yang telah mereka buat. Pada hari dan jam yang ditentukan, Mike datang menuju puncak Gedung. Ia membawa sebuah lukisan yang digambarnya sendiri. Terry memakai syal memandang sebuah gunung. Sementara Terry berjuang menembus kemacaten New York City, keluar dari taxi dan berlari lari sambil memandang ke atas. Tak sabar sampai di puncak gedung itu. Malang, karena terus melihat ke atas, ia tak melihat jalanan. Ia tertabrak mobil sehingga tak sadarkan diri. A promise in the air. Sebuah musik soundtrack dari Ennio Moriconne untuk film ini. Benarkah Janji yang telah dibuat akan membelenggu ? Padahal ada teman yang mengatakan bukankah cinta justru seharusnya membebaskan. Menjelang akhir percakapan. Saya lama tercenung ketika menjawab pertanyaannya di penghujung subuh itu. Terlalu lelah hari ini. Kami menutup percakapan subuh ini dengan sopan , dan membiarkan kembali ke kehidupan masing masing. Apapun kelebat masuk dalam pikiran kami. A promise in the air. Dalam kerudung putih kau tersenyum. Kulepas dipelabuhan hatiku dalam mimpi mimpimu. Bukankah cinta tak harus berakhir dengan perkawinan. Dia dan saya selalu mengerti, tak pernah sekalipun membicarakan masa lalu yang indah. Membiarkan surat surat cinta terpendam dalam pojok pojok laci yang paling dalam.
... " Ah, ... malam minggu datang lagi teman ... dari http://blog.imanbrotoseno.com 4 Hal Penting Dalam Pendidikan Orang Dewasa2 comments Monday, April 6, 2009 Didalam tulisan kali ini, saya akan berbagi mengenai 4 prinsip Pendidikan Orang Dewasa (POD) yang penting kita perhatikan saat menyelenggarakan pelatihan kewirausahaan sebagai berikut;
Teman, perhatikan 4 hal ini dalam pelatihan anda, pastikan anda mengetahui profil peserta, persiapkan tim kerja anda saat memulai dan menjalankan pelatihan, lakukan pengulangan pembelajaran dengan menggunakan metode dan alat bantu yang tepat serta bangun partisipasi dan dialog dengan peserta. Apa bila 4 hal ini dapat dilakukan, maka peserta akan mendapatkan sentuhan dan pengalaman pembelajaran yang berbeda dan menyenangkan . salam edwar Pelatihan Entrepreneur, mengapa harus metode pendidikan orang Dewasa?1 comments Monday, March 30, 2009![]() Pernah mendengar Andragogy ? Dalam bahasa kita diterjemahkan “Pendidikan Orang Dewasa”, suatu metode pelatihan yang lebih mengutamakan proses saling berbagi pengetahuan (Sharing of Knowledge) antara pelatih dan peserta. Dalam proses pelatihan ini, peserta akan menjadi sumber pembelajaran utama, sedangkan pelatih lebih dominan berperan sebagai fasilitator untuk mencapai tujuan pembelajaran, sehingga akan efektif meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan perubahan sikap peserta pelatihan menjadi seorang entreprenenur yang tangguh. Lalu, mengapa dalam pelatihan entrepreneur harus menggunakan pendidikan orang dewasa? Setidaknya ada 2 alasan ;
Berkatian dengan 2 hal tersebut diatas, pelatihan dengan menggunakan Metode Pendagogy (pengajaran) yang bercirikan : satu arah dan pelatih sebagai sumber utama pembelajaran tidak akan pernah berhasil menciptakan seorang entrepreneur. Pelatihan dengan metode ini hanya akan menjadikan pesertanya merasa digurui , menjadi pendengar pasif atau bahkan tertidur didalam kelas. Lagipula, .... bagaimana mungkin menjadi entrepreneur yang tangguh apa bila belajar dari seseorang (pelatih) yang bukan pelaku bisnis? Apalagi tidak pernah berbisnis! BAGAIMANA MENJADIKAN ASOSIASI KUAT?0 comments Monday, March 23, 2009Bagaimana mengeloa asosiasi menjadikan kuat dan eksis? Setidaknya ada 3 hal (sederhana) harus diperhatikan namun sering sekali terabaikan. Pertama; Apa alasan mendirikan asosiasi ? Jawaban mendasar dari pertanyaan ini harus berangkat dari permasalahan anggota, tidak cukup hanya bersumber dari tujuan asosiasi, atau misi atau visi yang cendrung “konseptual" . Selain tajam, jawaban yang bersumber dari permasalahan yang tengah dihadapi calon anggota tersebut akan mencerminkan misi dan bentuk layanan yang akan diberikan asoisasi terhadap anggotanya. Kedua; Bagaimana menarik anggota? Misi dan bentuk layanan yang jelas akan mempermudah proses recruitment anggota. Akan terjadi seleksi alam, karena hanya anggota yang merasa akan mendapatkan manfaat yang akan mengajukan diri bergabung menjadi anggota secara sukarela. Tahap berikutnya, pengelola harus kreatif saat melakukan proses penerimaan anggota, misalnya dengan membuka stand penerimaan anggota (open days) atau memberikan harga promo iuran saat pendaftaran atau dengan mencoba terlebih dahulu manfaat asosiasi baru mendaftar. Semakin kreatif dalam proses penerimaan, maka akan semakin kuat image asosiasi terbangun. Ketiga; Bagaimana mempertahankan anggota asosiasi? Setidaknya ada 3 hal yang perlu dilakukan untuk mempertahankan anggota asosiasi. Pertama adalah dengan Tangibel benefit, bagaimana asosiasi dapat memberikan manfaat yang langsung dirasakan oleh anggota berdasarkan bentuk layanan yang telah disepakati. Kedua adalah dengan menyelenggarakan pertemuan rutin (regular meeting) untuk membahas isu-isu anggota yang berkaitan dengan misi asosiasi dan Ketiga adalah dengan upaya mengakomodasikan suara aggota Apa bila ketiga pertanyaan mudah tersebut dapat dijawab dengan SMART (Specific, Measurable, Achievable, Realistic dan Time bond), maka sepertinya asosiasi akan dapat eksis di tengah-tengah anggotanya. Salam edwar Dibutuhkan Soft–Skill untuk menjadi seorang entrepreneur tangguh0 comments Monday, March 9, 2009Namun yang mengherankan, mengapa perusahaan ini tidak tumbuh menjadi mapan dan besar? Berbagai pelatihan kewirausahaan dari pemerintah maupun lembaga pelatihan sudah diikuti, tetapi tetap tidak membantu. Ada apa dengan teman kita ini? Saya teringat dengan salah satu referensi mengenai entrepreneurship (sorry bro, saya lupa sumber referensinya!) bahwa kompetensi seseorang itu terdiri dari dua hal yaitu Hard-skill dan Soft-skill. Hard-skill terdiri dari Knowledge (pengetahuan) dan Know-how (Keterampilan), cerita teman kita diatas sudah memiliki 2 hal ini, dia memilki pengetahuan yang diperoleh dari pelatihan-pelatihan dan berbagai referensi mengenai dunia bisnis serta memiliki keterampilan membuat produk kain perca. Namun satu hal lagi yang penting dan sering terabaikan adalah Soft-skill, yaitu hal-hal yang berhubungan dengan mental, diantaranya adalah jiwa entrepreneur atau kemampuan untuk menciptakan nilai tambah diatas keterbatasan. Oleh karenanya, seorang entrepreneur akan identik dengan karakter diri, sikap berani menanggung resiko, kreatif, inovatif, tangguh dan sebagainya. Kondisi ini sudah menjadi cerita klasik Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Sering kita temui UKM (tidak dibaca: Usaha Kurang Meyakinkan!) yang memiliki produk dan pangsa pasar yang prospek tetapi memiliki permasalahan klasik berulang-ulang, sehingga hidupnya tetap tidak berubah dari tahun ke tahun, bahkan semakin terlindas oleh persaingan bisnis yang semakin spesialis dan semakin kompleks (hyper competitive) akhir-akhir ini. Mereka ini bukan entreprenenur, tetapi pengusaha atau seseorang yang melakukan /memiliki usaha. Oleh karenanya, untuk menjadi seorang entrepreneur yang tangguh tidak cukup hanya berbekal pengetahuan dan keterampilan saja, tetapi juga perlu disertai dengan masalah mental, khususnya jiwa yang dapat menciptakan nilai tambah. Salam edwar
Subscribe to:
Posts (Atom)
About Me
Labels
|









